mikrousaha.com http://mikrousaha.com Mikro usaha merupakan suata kegiatan perekonomian dalam skala kecil. Pelaku maupun modal pun kecil, tetapi dari jumlah nya cukup banyak. Kegiatan usaha mikro ini merupakan bagaian yang cukup kuat dalam kondisi apapun. Sun, 5 Sep 2010 21:34:17 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://mikrousaha.com http://mikrousaha.com/images/logo.gif mikrousaha.com Agribisnis Domba Garut Memang Manis http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20968 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20968 Wed, 13 Jan 2010 10:32:42 +0700 Taufiqurahman Usaha Penggemukan Domba Garut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20968 Agribisnis Domba Garut

 

Peluang Investasi
  • Penggemukan Domba Garut
  • Pembibitan Domba Garut
Sentra Produksi
  • Kecamatan Cisewu
  • Kecamatan Cikajang
  • Kecamatan Bungbulang
  • Kecamatan Singajaya
  • Kecamatan Cibalong
  • Kecamatan Talegong
Deskripsi Usaha
  • Tujuan : Memenuhi permintaan pasar daging yang masih belum terpenuhi, mendorong timbulnya industri lain yang berbahan baku daging, kulit tulang dan bahan ikutannya.
  • Jenis produk yang dihasilkan : Ternak domba siap konsumsi, domba bibit, produk ikutan dan limbah berupa pupuk.
  • Target pemasaran :
    • Daging : Pasar Swalayan maupun pasar umum, pabrik pengalengan daging, rumah makan dan rumah tangga.
    • Kulit : Pabrik penyamakan kulit.
    • Tulang : Pengolahan pakan ternak, ikan, udang serta industri kerajinan.
    • Limbah Kandang : Pupuk kandang
  • Sarana Produksi : Induk, domba bakalan, HMT, konsentrat dan obat-obatan.
  • Skala Usaha Penggemukan / Pembibitan :
    • Skala Kecil 2 s.d 100 ekor
    • Skala Menengah 101 s.d 500 ekor
    • Skala Besar Lebih dari 500 ekor
  • Alternatif Lokasi Baru :
    • Kecamatan Bungbulang
    • Kecamatan Cisompet
    • Kecamatan Pakenjeng
    • Kecamatan Singajaya
Sarana dan Prasarana Wilayah
  • Sarana Produksi : Tersedia kecuali konsentrat
  • Sarana Transportasi : Tersedia (Jalan, Angkutan umum dll )
  • Lahan Penggembalaan dan Lahan Hijau Makanan Ternak (HMT) cukup tersedia (6.547)
  • Kondisi Lahan dan jarak lokasi dari ibukota Kabupaten
    Kecamatan
    Jenis Tanah
    Ketinggian
    Jarak
    Bungbulang
    Cisompet
    Talegong
    Pakenjeng
    Podsolik M/K
    Inceptisol
    Andisol
    Andisol
    0 - 400 m dpl
    150 - 600 dpl
    850 m dpl
    950 m dpl
    73 Km
    70 Km
    36 Km
    42 Km
  • Prasarana
    • RPH tersedia di Kecamatan Cikajang
    • Perekonomian : Pedagang perantara, pasar, koperasi, bank
    • Listrik & Telekomunikasi : tersedia di beberapa Kecamatan
    • Jalan propinsi dan kabupaten dalam kondisi baik
Dampak Positif
  • Membuka kesempatan berusaha dan peningkatan usaha agribisnis terpadu serta membuka kesempatan kerja.
  • Menggerakan perekonomian wilayah dan meningkatkan pendapatan peternak.
Program Yang Dapat Mendukung
  • Program pengembangan sumber daya sarana dan prasarana peternakan. IB, penanganan keswan, RPH dan Pasar Hewan.
Usaha Ikutan
  • Pengadaan Konsentrat dan obat-obatan ternak
  • Pengadaan / produksi hijauan makanan ternak
  • Produksi daging olahan
  • Produksi kerajinan kulit dan tulang
Perkiraan Biaya dan Evaluasi Finansial
(Pemeliharaan 500 ekor untuk 10 tahun)
 
Modal kerja awal (6 bl)
: Rp. 146.100.000
 
Modal Investasi
: Rp. 276.068.750
 
Total Biaya
: Rp. 422.168.750
 
ROI
: 8%
 
IRR
: 36,91%
 
NPV (18%)
: Rp. 313.955.681
 
Payback periods
: 2,97 tahun
 
BEP
: Rp. 1.145.328.327

 

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal

 

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
Istimewanya Domba Garut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20592 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20592 Sat, 9 Jan 2010 20:52:23 +0700 Taufiqurahman Usaha Penggemukan Domba Garut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=20592 Domba Garut Prolifik

Apa yang menjadi ciri khas kota Garut?

Bisa dipastikan sebagian orang akan menjawab, kalau tidak domba Garut, mungkin jeruk Garut. Benar sekali, domba Garut seakan sudah menjadi simbol ke-Garut-an, sepertinya simbol maung yang menjadi ciri khas orang Jawa Barat.

Domba Garut secara genetik memang dikenal sebagai domba yang termasuk dalam kategori domba prolifik atau domba yang mampu beranak banyak.

Keunggulan ini didapatkan sebagai gabungan antara faktor genetik dengan faktor lingkungan yang mendukung bagi proses fertilisasi.

Kendati demikian, ada tantangan besar bagi pemeliharaan domba prolifik yang sulit dipecahkan, yakni rasio kematian anak domba yang terlahir yang sangat tinggi. Apalagi jika tanpa dukungan nutrisi yang baik. Masalah penggemukan domba juga sangat terkendala oleh naik turunnya kondisi kesehatan domba dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Dengan mengadaptasi teknik pemeliharaan domba adu, maka laboratorium breeding farm Domba Garut di Pasanggrahan Baranang Siang telah berhasil membudidayakan domba Garut beranak empat dalam kondisi sehat (seperti yang tampak pada gambar).

 

 

Tags
]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
Domba Garut, Potensi, Masalah dan Solusinya http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18977 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18977 Sat, 26 Dec 2009 22:02:24 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18977 PENDAHULUAN
Pembangunan sektor pertanian dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, senantiasa didorong untuk mewujudkan perekonomian nasional yang sehat, hal ini tercermin dari visi yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian, sedangkan dalam misi pembangunan peternakan antara lain adalah memfasilitasi penyediakan pangan asal ternak yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya, memberdayakan SDM agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, membantu menciptakan lapangan kerja, dan melestarikan serta memanfaatkan sumberdaya alam pendukung peternakan (Departemen Pertanian, 2001). Salah satu komoditas perternakan yang memenuhi kriteria seperti pada visi daan misi di atas antara lain komoditas domba dan kambing.
Keragaman wilayah di muka bumi menyebabkan begitu banyak bangsa ternak yang tersebar di seluruh dunia. Sampai saat ini tercatat 244 bangsa domba yang telah diidentifikasi dengan cukup baik dan dari 300 bangsa kambing yang tercatat, 81 bangsa kambing telah teridentifikasi dengan baik sehingga dari performa fisik dapat dibedakan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya (Heriyadi, dkk., 2002). Beberapa bangsa domba dan kambing tersebut terdapat telah berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia.
Secara umum komoditas domba dan kambing terdistribusi di berbagai pulau atau provinsi di seluruh wilayah Indonesia atau minimum menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba dan kambing tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.
Lokasi penyebaran kambing sangat cocok bila dikembangkan di Provinsi Jawa Tengah, pada provinsi tersebut populasi kambingnya adalah yang paling tinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia (3.033.952 ekor), dan domba sangat cocok bila dikembangkan di Provinsi Jawa Barat, karena populasi domba di Provinsi Jawa Barat adalah yang paling tinggi di Indonesia yaitu sebanyak 4.221.806 ekor atau mencapai 55,9 % populasi domba nasional (Statistik Peternakan, 2006).
Berdasarkan data yang diolah dari Departemen Pertanian (2003), terungkap bahwa daerah yang populasinya paling padat dan cocok untuk mengembangkan kambing dan domba sebagai sumber bibit dan bakalan untuk komoditas :
(1) Kambing secara berturut-turut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darusallam, dan Sulawesi Selatan.
(2) Domba secara berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darusallam.
Upaya pengembangan komoditas ternak apapun, termasuk pengembangan dan peningkatan produktivitas domba dan kambing, tidak terlepas dari visi pembangunan sektor pertanian dan misi pembangunan peternakan yang telah ditetapkan sebagai arah dalam upaya pengembangan setiap komoditas ternak.

1. KONDISI KEKINIAN DOMBA DAN KAMBING,
POTENSI DAN MASALAHNYA

1.1 Kondisi Kekinian Domba dan Kambing
Perkembangan peternakan domba dan kambing (doka) sampai saat ini relatif jalan di tempat, perkembangan produksi dan produktivitasnya hampir tidak mengalami kemajuan berarti, hal ini diduga akibat pola pemeliharaannya yang masih bersifat tradisional dengan skala pemilikan yang kecil (small holders), sehingga doka kebanyakan dipelihara apa adanya tanpa suatu perencanaan yang jelas untuk lebih berkembang, lebih produktif, dan lebih menguntungkan, di samping itu jumlah pemotongan doka termasuk domba dan kambing betina produktif untuk kebutuhan lokal pun cukup tinggi, sehingga bila produktivitasnya tidak ditingkatkan dan dikembangkan secara komersial dan dalam skala yang besar, dihawatirkan akan terjadi pengurasan populasi domba dan kambing nasional, karena perkembangan populasi doka tidak sejalan dengan meningkatnya permintaan akan doka dan perkembangan populasi penduduk.
Populasi domba dan kambing di Indonesia saat ini mencapai 19 347 475 ekor, terdiri atas domba sebanyak 7.549 .316 ekor dan kambing 11.798.159 ekor, sedangkan populasi domba di Jawa Barat mencapai 4.221.806 ekor ( 55,92 % populasi nasional) dan kambing berjumlah 1.148.547 ekor dan pemotongan domba yang tercatat di Jawa Barat pada Tahun 2006 mencapai 3.343.365 ekor, sedangkan kambing sebanyak 444.969 ekor (Statistik Peternakan, 2006). Artinya permintaan daging domba di Jawa Barat sangat tinggi dan nyaris menguras populasi yang ada pada tahun berjalan, bila hal ini tidak segera diantisipasi bukan tidak mungkin lambat laun domba akan punah dari bumi Jawa Barat, walau pun domba-domba lokal di Jawa Barat termasuk Domba Garut dikenal sebagai domba yang paling prolifik di muka bumi.
Kondisi ini dihawatirkan diperparah oleh sulit tercapainya PSDS 2010 (Program Swasembada Daging Sapi 2010). Saat ini, diperkirakan kemampuan produksi daging sapi di dalam negeri baru mampu memberikan kontribusi sekitar (70-75) % terhadap kebutuhan nasional, padahal PSDS 2010 yang telah dicanangkan oleh Pemerintah menuntut peran produksi daging sapi dalam negeri untuk memberikan kontribusi sebesar (90-95) %. Bila sampai Tahun 2010 terjadi kekurangan pasokan daging sapi dipasaran, sedikit banyak akan berimbas pula pada peningkatan konsumsi daging doka, walau pun untuk daging doka terdapat pangsa pasar yang spesifik. Saat ini pangsa pasar daging doka di Indonesia tergolong sangat rendah atau hanya sebesar 5 %, daging unggas 56 % , daging sapi 23 %, daging babi 13 %, daging lainnya 3 % (Ditjen Peternakan, 2006).

1.2 Potensi yang Mungkin Dikembangkan dan Peluang Pasar
Potensi untuk mengembangkan domba dan kambing di Indonesia sangat terbuka lebar, karena kurang lebih 30 persen kebutuhan pangan dan pertanian dipenuhi oleh ternak, sehingga keberadaan ternak menjadi sangat strategis dalam hidup dan kehidupan manusia. Pengembangan potensi tersebut sebenarnya sangat terbuka lebar, hal ini didukung oleh (1) Sumber Daya Manusia, seperti Ilmuwan dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, balai-balai penelitian, (2) Kelembagaan yang terkait dengan domba dan kambing, seperti Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), Balai Embrio Transfer (BET), Balai Inseminasi Buatan (BIB), dan Satker Dinas Peternakan, Peternak dan Kelompok Peternak domba dan kambing, Organisasi Profesi (HPDKI, PG30), pasar doka baik di dalam maupun luar negeri, (3) Potensi Sumber Daya Genetik Ternak (SDGT), seperti ketersediaan plasma nutfah potensial sebagai bibit (Domba Garut, Domba Ekor Gemuk, Domba Ekor Tipis, Kambing Peranakan Ettawa, dll), Kemajuan ilmu pemuliaan (seleksi, culling, replacement, persilangan, dan rekayasa genetika), Kemajuan industri obat-obatan ternak, dukungan peternakan rakyat dan kelompok peternak dalam produksi bibit sebar dan bibit induk, daya dukung perkebunan-perkebunan, lahan-lahan kritis, areal kehutanan, lahan-lahan pangonan, yang dapat dijadikan basis ekologi peternakan domba dan kambing.
Potensi tersebut di atas perlu diperhatikan secara terintegrasi sehingga dapat diperoleh manfaat produksi dan manfaat ekonomi secara maksimum.
Peluang pasar untuk doka di dalam negeri sangat terbuka lebar, hal ini tersirat dari besarnya permintaan dan data pemotongan doka di Jawa Barat, baik pemotongan yang tercatat maupun yang tidak tercatat untuk kebutuhan konsumsi, kebutuhan Iedul Qurban, maupun untuk Aqiqah.
Potensi pasar ini akan terus berkembang sejalan dengan pesatnya pertambahan penduduk (saat ini penduduk di Indonesia telah mencapai 225 juta orang dan diproyeksikan akan mencapai 234 juta orang pada Tahun 2010, di samping itu peningkatan pendapatan, peningkatan kesadaran akan pentingnya gizi asal protein hewani, kesadaran masyarakat akan pentingnya lamb untuk meningkatkan kecerdasan balita, termasuk campur tangan pemerintah untuk membuka dan memperluas peluang pasar di dalam negeri, akan semakin membuka pasar domba dan kambing di dalam negeri.
Konsumsi daging domba dan kambing di Indonesia sampai saat ini hanya mencapai 0,24 g (Data Diolah, 2008), sedangkan data konsumsi daging doka di beberapa negara maju adalah sebagai berikut Jerman 3,33 g, Rusia 3,36 g, Cina 6,39, Perancis 13,89, Inggris 16,94, Yunani 38,61, Australia 52,50 g, dan yang tertinggi adalah New Zealand yaitu 81,11 g (Anonimous, 2000).
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa kemajuan suatu negara memiliki korelasi yang positif dengan konsumsi daging doka, artinya semakin maju suatu negara semakin besar pula kebutuhan daging dokanya.

1.3 Kebutuhan Domba dan Kambing untuk Kurban
Makna kurban untuk umat Islam adalah prosesi penyembelihan ternak untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dengan syarat-syarat dan tatacara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah. Jadi pelaksanaan qurban semata-mata hanya untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri pada Allah SWT, hal ini sesuai dengan dengan firmanNya dalam QS Al-Hajj:37 yang menyatakan bahwa daging-daging dan darah (hewan kurban) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridloan) Allah, tetapi ketaqwaan kamulah yang mencapainya. Selanjutnya dalam suatu hadits dinyatakan bahwa Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang paling disukai Allah SWT pada Hari Raya Iedul Adha selain berkurban. Sesungguhnya darah yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah SWT sejak darah itu jatuh di permukaan bumi (HR At-Tirmizi dan Ibnu Majjah).
Atas dasar firman dan hadits yang telah disebutkan di atas dapat diprediksi bahwa dengan semakin bertambah umat Islam di Indonesia dan sejalan pula dengan meningkatnya ketaqwaan serta meningkatnya perekonomian umat, maka kebutuhan hewan kurban akan meningkat secara linear atau dapat dikatakan bahwa bahwa peningkatan populasi penduduk yang beragama Islam akan meningkatkan kebutuhan hewan kurban dalam situasi ekonomi yang kondusif.
Sebagai gambaran berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta, jumlah pemotongan doka di Jakarta saat Hari Raya Iedul Adha 2006 adalah sebanyak 1.721 ekor (domba) dan 40.043 ekor (kambing), di samping itu dipotong pula 5.048 ekor sapi dan 151 ekor kerbau, sedangkan prediksi untuk tahun 2007 adalah 2.000 ekor domba dan 60.000 ekor kambing, 6.000 ekor sapi, dan 200 ekor kerbau (data realisasi pemotongan untuk Tahun 2007 belum diperoleh).
Data tersebut merupakan gambaran kebutuhan hewan kurban yang senantiasa meningkat dari tahun ke tahun, khususnya gambaran untuk daerah pantura, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, sedangkan untuk daerah Jawa Barat ternak yang dijadikan hewan kurban lebih banyak domba dibandingkan kambing. Hal ini terkait dengan kebiasaan dan preferensi umat di daerah masing-masing, namun secara umum jumlah tersebut dapat merepresentasikan jumlah ruminansia kecil (doka) yang dipilih sebagai hewan kurban.

1.4 Ancaman-ancaman bila Domba dan Kambing Tidak Digarap Serius
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah domba dan kambing yang potensial dan cukup banyak untuk dikembangkan dan dimanfaatkan agar diperoleh manfaat ekonomi bagi masyarakat, di antara plasma nutfah tersebut yang memiliki potensi ekonomi antara lain Domba Garut, Domba Ekor Gemuk, Domba-domba komposit, Kambing Peranakan Ettawa, dan doka lokal dari berbagai daerah di wilayah Indonesia.
Keberadaan plasma nutfah potensial tersebut sampai saat ini masih kurang digarap secara serius, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan peternak yang memeliharanya, kesinambungan dan keberlanjutan usaha doka, serta untuk melindungi dan menyelamatkan plasma nutfah asli Indonesia, sementara itu permintaan akan doka terus meningkat, pemotongan doka sering kurang terkendali yang terbukti dengan tingginya angka pemotongan doka betina produktif, sehingga peluang-peluang tersebut justru dapat menjadi bumerang, karena dapat pula berpotensi menjadi sumber pengurasan doka dan plasma nutfah Indonesia.
Hal ini berkaitan dengan terancamnya kepunahan 30 % bangsa ternak di muka bumi seperti yang dilansir oleh FAO, diduga 1 spesies atau bangsa ternak punah setiap 5 hari, dan kepunahan tersebut setengahnya atau 50 % terjadi dinegara-negara berkembang. Atas dasar itu pula pada Tanggal 7 September FAO mengeluarkan deklarasi di Switzerland yang dikenal dengan Deklarasi Interlaken, yang bertujuan untuk penyelamatan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik ternak yang ada di dunia dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pendukung pertanian, agar keamanan pangan dunia dapat terjamin, mengakui State of the world’s animal genetic resources, kajian mendalam tentang sumber daya genetik ternak dan menyiapkan Global Plan of Action for Animal Genetic Resources.

2. SOLUSI DAN MODEL USAHA YANG TEPAT
2.1 Model-model Pengembangan Domba dan Kambing
Rancangan pembangunan dan pengembangan pembibitan doka di Indonesia, sangat bergantung atas pengembangan industri benih (mani dan mudigah) dan bibit doka (bakalan doka pada umur tertentu) yang bersumber dari dalam negeri.
Hal ini berusaha dicapai melalui visi perbibitan peternakan, yaitu tersedianya berbagai jenis bibit dalam jumlah dan mutu yang memadai serta mudah diperoleh, pelaksanaannya dikejawantahkan dalam dan misi sebagai berikut : (1) menyediakan bibit yang berkualitas dalam jumlah yang cukup, (2) mengurangi ketergantungan impor bibit ternak, (3) melestarikan dan memanfaatkan bangsa ternak setempat, serta (4) mendorong pembibitan-pembibitan pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Usaha dalam meningkatkan mutu genetik ternak perlu dilakukan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan, kualitas mutu genetik ternak akan sangat terkait dengan produktivitas dalam usaha di bidang peternakan, upaya yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan nilai rata-rata sifat produktif (sifat yang dikehendaki) yang dimiliki oleh sekelompok ternak.
Strategi pengembangan kelembagaan perbibitan yang telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian (2003), adalah berupaya untuk membentuk dan memberdayakan berbagai kelembagaan penunjang produksi bibit ruminansia, antara lain adalah : (1) Secara konsisten memperbaiki kinerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) perbibitan ternak ke arah komersialisasi dan privatisasi, sehingga UPT perbibitan ruminansia dapat menghasilkan bibit ternak yang berkualitas, (2) Mengembangkan kelembagaan penangkar bibit ternak rakyat yang dilaksanakan oleh masyarakat peternak sendiri, dengan pola dasar semacam VBC (Village Breeding Center).

2.2 Model dan Skala Usaha yang Ekonomis
Usaha peternakan doka terkait dengan pasar kurban dan aqiqah pada dasarnya dibagi dalam dua jenis usaha, pertama adalah usaha penyediaan bibit atau bakalan dan usaha penggemukan doka.
Secara umum semua usaha pembibitan baik pembibitan domba maupun kambing, keduanya sama-sama tidak menguntungkan karena usaha pembibitan tersebut memerlukan biaya yang besar, resiko yang tinggi, dan tidak quick yielding. Oleh karena itu usaha pembibitan ternak sebaiknya dikelola oleh pemerintah atau swasta yang kuat dari segi permodalan dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Peternak doka small holders yang melakukan pembibitan dalam skala rumah tangga sering tidak merasakan rugi, karena pemeliharaan yang dilakukan masih bersifat tradisional yang sering tidak memperhitungkan faktor-faktor produksi, sehingga kerugian yang terjadi tidak dirasakan secara langsung oleh Peternak, namun bila diperhitungkan secara ekonomis usaha pembibitan tersebut akan terlihat merugi.
Penggemukan doka sebenarnya dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan usaha, dan bila dikelola dengan cermat dapat menghasilkan keuntungan yang lumayan. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti pemilihan bakalan, pemberian pakan, manajemen pemeliharaan, pertimbangan kesehatan ternak, dan penguasaan pasar yang baik, termasuk pertimbangan waktu yang tepat dalam menjual doka. Saat menghadapi Hari Raya Iedul Qurban adalah salah satu waktu yang baik untuk mengusahakan penggemukan doka, karena pasar dan harga akan sangat kondusif untuk iklim usaha.
Skala usaha yang menguntungkan untuk penggemukan doka pada dasarnya semakin banyak doka yang dipelihara akan semakin ekonomis usaha tersebut,
berikut ini adalah perhitungan sederhana untuk skala pemeliharaan 30 ekor domba lokal, dengan asumsi-asumsi pemeliharaan sebagai berikut: mortalitas 5 %; luas kandang 22,5 m2 untuk masa pakai 10 tahun biaya pembuatan per m2 adalah Rp 250.000,00; lama penggemukan 4 bulan; BB awal bakalan 23 kg dengan harga Rp 23.000,00/kg; ADG 80 g; konsentrat 200 g/ekor/hari dengan harga konsentrat Rp 1.200,00/kg; tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp 750.000,00/bulan; harga jual domba Rp 30.000,00/kg hidup; faeces yang dihasilkan 22,5 kg/hari dengan harga jual Rp 200,00.
Atas dasar sumsi-asumsi tersebut di atas, akan dikeluarkan (1) Biaya Tetap (investasi) untuk penyusutan kandang, peralatan, sewa kendaraan, dan biaya tidak terduga sebesar Rp 837.500,00. (2) Biaya Variabel untuk pembelian domba bakalan, konsentrat, tenaga kerja, listrik, air, komunikasi, dan overhead cost sebesar Rp 20.734.000,00. (3) Pendapatan dari penjualan domba dan faeces sebesar Rp 28.413.000,00.
Berdasarkan pendapatan dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usaha penggemukan domba lokal tersebut, diperoleh laba usaha sebagai berikut :
Laba Usaha = Rp 28.413.000,00 – (Rp 837.500,00 + 20.734.000,00)
= Rp 28.413.000,00 – Rp 21.571.500,00
= Rp 6.841.500,00/periode.

Laba usaha tersebut tentu saja masih dapat ditingkatkan bila peternak memilih bakalan yang memiliki ADG di atas 80 g, seperti Domba Garut, DEG, atau Domba-domba komposit dan memiliki keterampilah khusus dalam menjual domba hasil penggemukannya.
Selamat mencoba.

DAFTAR BACAAN

Anonimous. 2000. MEAT, International Magazine, Volume 10.

Departemen Pertanian. 2001. Kebijakan Umum Pembangunan Sistem Agribisnis
Peternakan 2000-2004. Disampaikan pada Rapat Dengar Pendapat dengan
Komisi III DPR RI. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Jakarta.

Departemen Pertanian. 2003. Pengembangan Industri Benih dan Bibit
Peternakan di Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan
Direktorat Perbibitan. Jakarta.

Heriyadi, D. 2002. Sistem Perbibitan Ternak Ruminansia. Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran. Bandung.

FOA. 2007. Animal Genetic Resources International Conference. 3-7 September
2007. Agricultural Department. Animal Production and Health Division.
Interlaken Switzerland. www.fao.org/AG/AGAINFO/Programmes/en/
genetics/ITC_press.html - 27k. Diakses Tanggal 15 Januari 2008.

Statistik Peternakan. 2006. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Bandung

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
Prospek Penggemukan Domba Garut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18974 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18974 Sat, 26 Dec 2009 21:07:49 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18974 PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS: KAMBING DOMBA

Agribisnis komoditas ternak kambing dan domba (kado) di Indonesia mempunyai prospek yang sangat besar, mengingat dalam 10 tahun mendatang akan ada 5 juta kepala keluarga muslim yang masing-masing kepala keluarga akan menyembelih satu ekor ternak kambing ataupun domba untuk kurban, satu ekor untuk setiap anak perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki untuk akikah. Disamping itu untuk keperluan ibadah haji di tanah suci akan dibutuhkan 2,5 juta ekor kado untuk keperluan membayar dam ataupun untuk kurban para jemaah haji.

Profil usaha-ternak kado di sektor usaha primer menunjukkan bahwa usaha tersebut memberikan keuntungan yang relatif baik, masing-masing dengan nilai B/C sebesar 1.17 dan 1.39 untuk usaha pembesaran dan penggemukan.

Untuk itu diperlukan dukungan investasi dalam pengembangan agribisnis kado baik dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat/komunitas peternak. Investasi tersebut meliputi aspek: (i) pelayanan kesehatan hewan, (ii) dukungan penyediaan bibit (pejantan) unggul dan induk berkualitas, (iii) kegiatan penelitian, pengkajian dan pengembangan yang terkait dengan aspek pakan dan manajemen pemeliharaan, serta (iv) pengembangan kelembagaan untuk mempercepat arus informasi, pemasaran, promosi, permodalan, (v) penyediaan infrastruktur untuk memudahkan arus barang input-output serta pemasaran produk, (vi) ketersediaan laboratorium keswan, pakan dan reproduksi, serta (vii) penyiapan lahan usaha peternakan dan penetapan tata ruang agar pengembangan ternak tidak terganggu oleh masalah keswan, sosial, hukum dan lingkungan.


Secara mandiri swasta dapat bergerak di sektor hulu (usaha penyediaan calon induk, penyediaan pejantan, penyediaan semen, pabrik pakan mini,dll), serta di kegiatan hilir (RPH, industri pengolahan daging, susu, kulit, kompos dll.). Usaha-ternak budidaya oleh swasta dilakukan melalui pendekatan pola kemitraan, dimana peternak menghasilkan bakalan dan inti membeli untuk digemukkan atau langsung dipasarkan. Variasi dari pola kemitraan dan investasi dalam pengembangan kado sistem integrasi mungkin cukup beragam, dan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

Sasaran pengembangan kado dalam 10 tahun mendatang ditujukan untuk menambah produksi sampai 5 juta ekor/tahun, yang berarti diperlukan penambahan populasi induk sedikitnya 4 juta ekor, untuk menghasilkan anak 6 juta ekor/tahun, yang akan berdampak pada penambahan populasi sekitar 10 juta ekor. Bila rata-rata harga kado sekitar Rp. 400 ribu/ekor, maka total investasi yang diperlukan sekitar Rp. 4 trilyun. Bila diasumsikan pemerintah akan berinvestasi sebesar 0,92 trilyun (23 persen), masyarakat sebesar 2,52 trilyun (63 persen), maka investasi swasta yang dibutuhkan sedikitnya sekitar Rp. 0,56 trilyun (14 persen). Angka-angka ini belum memperhitungkan bila sebagian ternak ditujukan untuk menghasilkan susu. Investasi masyarakat sebagian besar berasal dari pemanfaatan aset yang telah dimiliki, atau sumber pendanaan baru yang berasal dari lembaga keuangan, bantuan pemerintah, kerjasama dengan swasta (inti) atau bantuan keluarga/kelompok.

Usaha-ternak kado akan mampu menciptakan lapangan kerja baru, baik peluang untuk menjadi peternak mandiri maupun lowongan pekerjaan yang terlibat pada sektor hulu dan hilir. Bila ada penambahan populasi sekitar 12 juta ekor, sedikitnya akan mendorong penciptaan lapangan kerja baru untuk satu juta orang di perdesaan maupun di kawasan industri pendukung.

Investasi penyediaan bibit unggul, untuk calon induk maupun pejantan adalah sangat strategis, karena saat ini praktis belum ada pihak yang tertarik. Pusat pembibitan ternak milik pemerintah yang sudah ada belum mampu untuk merespon perkembangan yang terjadi di masyarakat. Namun ke depan kegiatan ini justru harus dilakukan oleh swasta atau peternak kecil yang maju. Investasi untuk usaha ini dapat dimulai dengan skala sedang 200-500 ekor untuk kemudian dikembangkan menjadi usaha yang besar. Investasi yang diperlukan usaha ini sedikitnya sekitar Rp. 0,5-1 milyar, tidak termasuk kebutuhan lahan. Diharapkan usaha ini dapat dikembangkan di kawasan perkebunan yang sudah tersedia bahan pakan yang memadai. Sementara itu investasi untuk pabrik pakan, pabrik obat, pabrik kompos, pabrik pengolahan susu, dll., dapat disesuaikan dengan kapasitas yang diperlukan, yang bernilai setara dengan nilai investasi pada ternak lainnya.

Dukungan kebijakan investasi perlu menyertakan petani sebagai end user dan pada akhirnya memberikan titik terang dalam pemberdayaan petani, peningkatan kesejahteraan disamping penambahan devisa dari ekspor bila pasar ekspor ke negara-negara jiran dapat dimanfaatkan. Untuk mendukung pembangunan/ revitalisasi pertanian dan menciptakan iklim investasi guna pengembangan dan peningkatan mutu ternak kado diperlukan berbagai kebijakan, antara lain: (a) penyederhanaan prosedur dan persyaratan untuk investasi usaha pengembangan peternakan kado; (b)penyediaan kredit bagi hasil dan (c) penyediaan informasi (harga dan teknologi) (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian)

Sabtu, 10 Mei 2008

APRESIASI MASYARAKAT PADA PRODUK TERNAK

.............

DUKUNGAN TEKNOLOGI PENYEDIAAN PRODUK PANGAN PETERNAKAN BERMUTU, AMAN DAN HALAL (bag 2)

Sudah diketahui bersama bahwa produk ternak sangat dibutuhkan dalam menopang kehidupan tubuh manusia. Kualitas pangan berasal dari hewan ini pada batasbatas cukup sangat dibutuhkan untuk menopang hidup pokok, aktivitas dan reproduktivitas umat manusia. Akan tetapi belum semua maasyarakat Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan pangan asal hewan. Soedjana (1996) mengindikasikan bahwa pada masyarakat Indonesia yang berpenghasilan rendah, pangsa pengeluaran rumah tangganya sebagian besar (lebih dari 50%) masih didominasi oleh pengeluaran pangan, terutama beras sebagai makanan pokok. Dijumpai pula bahwa masyarakat di perkotaan, yang berpendapatan tinggi dan berpendidikan menengah ke atas, pangsa anggaran belanja makanannya diperkirakan kurang dari separuh pendapatan rumah tangga. Yang sangat menarik dari fenomena ini adalah dijumpainya kecenderungan penurunan konsumsi pangan yang bersumber karbohidrat dan beralih pada pangan bersumber protein seperti hasil ternak dan ikan.

Konsumen pangan sumber produk ternak ini lebih banyak untuk masyarakat di perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan, meskipun pada akhir-akhir ini ada juga masyarakat dengan berpenghasilan menengah ke atas mulai mengkhawatirkan kelebihan konsumsi pangan sumber hewan, sehingga ada kecenderungan untuk menurunkan konsumsi pangan berasal produk ternak dan beralih pada buah dan sayur. Fenomena di atas ini tentunya masih merupakan perbandingan yang kurang proporsional jika melihat pangsa masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia ini boleh dikatakan paling besar dibandingkan dengan pangsa masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi. Mengingat bahwa masyarakat di Indonesia baru mengkonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari, artinya berdasarkan norma gizi minimal bangsa ini baru mengkonsumsi 69,8% protein hewani. Saat ini, masyarakat Indonesia baru bisa memenuhi konsumsi daging sebanyak 5,25 kg, telur 3,5 kg, dan susu 5,5 kg/kapita/tahun (Siswono, 2005). Jelas sekali terlihat bahwa kesenjangan yang sekitar 30,2 % masih merupakan tantangan yang harus dihadapi guna memenuhinya.


Keterbukaan pangsa pasar produk ternak ini begitu lebar, sehingga upaya-upaya peningkatan produksi ternak melalui berbagai jurus sistem seperti sistem ektensif di pulau-pulau yang kurang penduduknya sampai sistem intensif yang berada di pulau yang dihuni banyak manusia. Namun kembali lagi pada fenomena yang dikemukakan Soedjana (1996), besarnya pendapatan keluarga sangat menentukan besarnya konsumsi produk ternak, sehingga keterbukaan pasar yang kelihatannya menggiurkan, tenyata ada keterbatasan. Upaya pemerintah tentunya tidak berhenti, karena tujuan utamanya adalah meningkatkan konsumsi produk pangan berasal dari ternak, sehingga faktor daya beli masyarakat sebaiknya bukan penghalang serius. Berbagai cara untuk meningkatkan konsumsi pangan berasal produk ternak ini, misalnya peningkatan pemilikan ternak yang disertai dengan promosi utamanya peningkatan konsumsi untuk keluarga, yang pada gilirannya dapat juga berakhir untuk dijual untuk mendapat tambahan uang tunai untuk keluarga.

Besambung ke bag.3
TEKNOLOGI BUDIDAYA MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUK PANGAN HEWANI

 


 


Minggu, 04 Mei 2008

DUKUNGAN TEKNOLOGI PENYEDIAAN PRODUK PANGAN PETERNAKAN BERMUTU, AMAN DAN HALAL (bag 1)

Prof. Dr. Ir. Ahmad Suryana, MS
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Departemen Pertanian

1. Ringkasan

Berbagai lapisan masyarakat Indonesia sangat membutuhkan pangan hewani guna mendapatkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas. Akan tetapi ketersediaan pangan hewani ini sangat ditentukan pula oleh tingkat pendapatan masyarakat dan kesadaran akan gizi yang baik. Dari berbagai jenis pangan hewani asal peternakan, maka negara Indonesia sudah dapat berswasembada untuk telur dan daging ayam broiler, akan tetapi belum dapat mencukupi kebutuhan akan pangan hewani asal daging sapi dan susu.


Apresiasi masyarakat terhada pangan hewani asal ternak cukup tinggi, walaupun secara umum masyarakat Indonesia baru dapat memenuhi 69,8% dari kebutuhan protein hewani. Berbagai strategi untuk meningkatkan kesediaan pangan hewani asal ternak telah pula dilakukan. Sementara ini, telah tersedia beragam rakitan teknologi dari Badan Litbang Pertanian menyangkut aspek budidaya peternakan dan pencegahan penyakit hewan serta pengolahan produk pangan hewani yang aman dan halal. Implementasi rakitan teknologi di masyarakat luas diharapkan dapat membantu penyediaan pangan hewani asal ternak.
Kata kunci : peternakan, teknologi, pengolahan.


2.Pendahuluan

Populasi penduduk Indonesia yang sekitar 220 juta orang memerlukan kesediaan pangan hewani bermutu tinggi, halal dan aman dikonsumsi. Rataan konsumsi pangan hewani asal daging, susu dan telur masyarakat Indonesia adalah 4,1; 1,8 dan 0,3 gram/kapita/hari (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Angka angka tersebut barangkali jauh lebih rendah dari angka konsumsi standar Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) yaitu sebanyak 6 gram/kapita/hari atau setara dengan 10,3 kg daging/kapita/tahun, 6,5 kg telur /kapita/tahun, dan 7,2 kg susu/kapita/tahun (Direktorat Jendral Peternakan, 2006).

Konsumsi pangan asal hewani akan meningkat sejalan dengan membaiknya keadaan ekonomi masyrakat maupun meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi baik. Di antara ketiga jenis pangan hewani asal ternak (daging, telur dan susu), sejak tahun 1955 Indonesia sudah mampu berswasembada telur dan daging ayam, akan tetapi sampai dewasa ini kita belum untuk daging sapi dan susu.

Secara Nasional, produksi telur ayam didukung oleh industri unggas swasta dari ras petelur yang sebagian dicukupi oleh telur ayam buras maupun telur itik, berturutturut adalah 751,1 ; 181,1 dan 201,7 ton (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Tidak demikian halnya dengan kesediaan susu, dimana dari konsumsi susu nasional yang sebesar 4-4,5 juta liter/hari, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 30% saja (1,2 juta liter/hari). Produksi susu dalam negeri tersebut terutama dipenuhi dari industri persusuan Nasional berlokasi di Jawa Barat (450 ton), Jawa Tengah (110 ton) dan Jawa Timur (510 ton), sementara sisanya masih harus diimpor dari luar negeri.

Diantara pangan hewani asal daging, maka sebagian besar masyarakat Indonesia mengandalkan pada penyediaan daging unggas (ayam dan itik), daging sapi, kerbau dan babi. Kesediaan daging unggas dari broiler (955.756 ton) sudah mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat luas, sedangkan populasi ayam lokal sejumlah 298,4 juta ekor, mempunyai produksi sekitar + 322.8 ribu ton. Populasi sapi potong yang 11 juta ekor hanya memenuhi produksi daging sapi nasional sebesar 306 ribu ton (pemotongan sekitar 1,5 juta ekor/tahun) atau baru memenuhi 70% dari kebutuhan nasional. Sehingga pemerintah masih memerlukan importasi bakalan sapi potong sejumlah 408 ribu ekor/tahun (setara dengan 56 ribu ton). Pada tahun 2005 importasi daging (terdiri dari daging sapi, kambing, domba, ayam dan babi, termasuk hati dan jeroan sapi) mencapai 634.315 ton dan produk susu mencapai 173.084 ton, belum lagi mentega (60.176 ton), keju (9.883 ton), sedikit telur dan yoghurt (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Besarnya importasi bakalan sapi potong tentu saja akan sangat menguras devisa negara dan membuat ketergantungan pada pihak luar.

Stimulasi produktivitas ternak dapat ditingkatkan melalui implementasi kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan sistem produksi ternak maupun dengan perakitan inovasi teknologi yang sesuai. Inovasi teknologi, selain menyangkut produktivitas ternak, juga harus menyentuh aspek penangan kesehatan hewan maupun pengolahan produk ternak yang aman dan halal. Naskah ini akan menyampaikan dukungan teknologi Badan Litbang Pertanian guna penyediaan produk pangan asal peternakan dan asal peternakan, yaitu daging, telur dan susu.

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
Cara Jitu Gemukkan Domba Gaut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18970 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18970 Sat, 26 Dec 2009 20:29:40 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18970 Jurus Cepat “Gemukkan” Kantong

Cukup dipelihara tiga-empat bulan secara intensif, lalu dijual. Keuntungan pun langsung didapat.  

Boleh dibilang, agribisnis kambing maupun domba (kado), sampai saat ini belum banyak digarap. Padahal, peluang usahanya cukup menjanjikan. Selain banyak dibutuhkan pasar dalam negeri, khususnya untuk sate, pesta, kurban, dan akikah, kado diminati pasar ekspor.

Memang, produksi dan produktivitas yang rendah masih menjadi hambatan pengembangan domba maupun kambing. Hal ini gara-gara sistem pemeliharaan masih tradisional dan belum berorientasi pada keuntungan. “Oleh masyarakat pedesaan, domba atau kambing masih dianggap tabungan, belum dijadikan ladang usaha,” ungkap H. Ujang Munajat, peternak domba intensif, di Cicurug, Sukabumi, Jabar.

Penggemukan dengan penerapan teknologi pakan sesuai kebutuhan gizi ternak, salah satu alternatif tujuan agribisnis kado yang jelas. Apabila penggemukan direncanakan dengan tepat waktu penjualan setiap periodenya, ternak kecil ini dapat dijadikan usaha andalan. Selain bibit dan manajemen pemeliharaannya, pemberian pakan sangat penting diperhatikan. Bila tidak, usaha budidaya kado tidak menguntungkan. “Pakan yang tepat penting untuk memperoleh pertambahan bobot badan yang lebih baik, sehingga diperoleh keuntungan optimal,” tutur Yuyu Rahayu, pengelola Kampung Ternak, di Bogor, Jabar.

 

Bisa Tiga Bulan

Kado untuk bibit biasanya diberi pakan sebanyak 10—20 persen dari bobot badan. Artinya, bila bobotnya 50 kg, pakan yang diberikan setiap hari sebanyak 5—10 kg. Guna mencukupi kebutuhan protein, menurut Yuyu, sebaiknya dijatah pakan pendamping berupa konsentrat 1% dari bobot badan.

Namun, dalam penggemukan, porsi konsentrat lebih banyak, 70—90 persen. “Dengan porsi itu, target pertumbuhan bisa tercapai. Biasanya, selama 4 bulan diberikan 1 kg konsentrat per ekor,” imbuh Yuyu.

Contoh usaha penggemukan domba bisa dilihat di PT Laga Lesan Putra (LLP), peternakan domba garut di Ciomas, Bogor, Jabar. Tiga bulan menjelang Idul Adha, perusahaan ini membeli 100—200 ekor domba Garut, umur satu tahun dan berbobot 27 kg dengan harga rata-rata Rp500 ribu/ekor. Domba lalu dipelihara selama 3 bulan, dirawat, dipotong bulu dan kukunya, serta dimandikan.

“Kalau pakannya bagus, domba bisa berkembang baik dan bisa dijual seharga Rp750 ribu—Rp 900 ribu/ekor,” ucap Yanto Tarsono, pegawai LLP. Untuk mencapai target bobot 35 kg per ekor selama pemeliharaan 3 bulan, domba dipasok pakan 3 kali sehari. Pakan ampas tahu diberikan pada pukul 11 siang, sebanyak 2 kg per ekor. Pakan susulan berupa rumput sebanyak 5 kg per ekor yang disediakan pada pukul satu siang dan pukul 5 sore. “Pagi hari sampai pukul 10, domba belum diberi makan. Rentang waktu itu dipergunakan untuk bersih-bersih kandang seperti menyapu dan menyemprot lantai dengan air,” tandas Yanto.

Dadang WI, Enny Purbani, Yan Suhendar

 

Analisis Usaha Penggemukan Domba

 

Uraian                                       Volume            Harga            Jumlah 

Produksi Domba                      30 ekor      R p. 700.000      Rp 21.000.000

Biaya Operasional:

a. Bibit Domba                         30 e kor      Rp. 300.000      Rp  9.000.000

b. Pakan Hijauan                     21.600 kg     Rp.          75      Rp  1.620.000

c. Pakan Konsentrat                2.400 kg    Rp.     1.000       Rp  3.600.000

d. Obat-obatan                                -                   -                 Rp     100.000

e. Upah Buruh                        Bulan   4       Rp. 100.000      Rp     400.000

Total Biaya Operasional                                       Rp 14.720.000             

Keuntungan                                                          Rp  6.280.000

 

Keterangan:

§         Pakan Hijauan 6—8 kg/ekor/hari.

§         Pakan Penguat 1 kg/ekor/hari.

§         Obat-obatan Rp10.000/ekor/tahun (dewasa)

§         Luas Kandang 1m2 /ekor

§         Biaya kandang Rp50.000/m2 dengan umur ekonomi 10 tahun.

§         Periode penggemukan 4 bulan.

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
Penggemukan Domba Garut http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18952 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18952 Sat, 26 Dec 2009 18:00:34 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18952 http://mikrousaha.com/rss-comments/ bibit domba http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18796 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18796 Fri, 25 Dec 2009 19:01:32 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=18796  

 

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/
PROPOSAL PENGGEMUKAN DAN PEMBIBITAN TERNAK DOMBA http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=7329 http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=7329 Wed, 2 Sep 2009 13:09:33 +0700 Taufiqurahman Usaha Mikro http://mikrousaha.com/?pg=articles&article=7329 2009-09-07Tidak hanya perusahaan yang dapat memiliki situs web, sekarang siapapun dapat memiliki situs web dengan mudah, untuk itu PT SITEKNO hadir sebagai penyedia layanan pembuatan situs web dengan cara yang lebih mudah, murah dan menguntungkan .

Kenapa Mudah?
Karena proses membuat situs web di SITEKNO WEBMATIC memang sangat mudah, anda cukup membeli NOMOR SERI dan PIN keanggotan, lalu mengaktifkan keanggotaan anda pada situs utama www.sitekno.com . Hal pertama yang harus anda lakukan untuk mendapatkan situs web SITEKNO WEBMATIC adalah mencari Nama Domain yang akan anda gunakan melalui fasilitas www.sitekno.com . Nama domain adalah alamat situs web anda di internet contohnya www.sayapunyablogsitekno.com, setelah anda yakin dengan pilihan anda dan domain yang anda kehendaki masih tersedia, ikuti petunjuk aktivasi sampai selesai sampai situs web anda online saat itu juga dengan pilihan desain tampilan (tema/template) yang sudah tersedia untuk dipilih sesuai selera anda.

Kenapa Murah?
Anda cukup menyisihkan Rp 330.000,- per tahun, atau kurang dari Rp 1.000,- per hari untuk memiliki situs web dengan nama domain pilihan anda sendiri beserta fitur-fitur aplikasi web yang saat ini sudah cukup lengkap dan tentunya akan terus dikembangkan.
Jika anda masih merasa keberatan dengan biaya tersebut, anda dapat menjalankan bisnis jaringan SITEKNO WEBMATIC yang sangat menjanjikan, kalau bisnis tersebut dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh, anda tidak perlu lagi menyisihkan Rp 1.000,- per hari, sebaliknya anda bahkan akan mendapatkan Rp 10.000,- per hari, Rp 100.000,- per hari, atau Rp 1.000.000,- per hari ? tentukan penghasilan anda sendiri bersama SITEKNO WEBMATIC.

Kenapa Menguntungkan?
Disinilah perbedaan paling menonjol antara SITEKNO WEBMATIC dengan perusahan lain yang memberikan produk dan jasa yang serupa, selain memiliki situs web dengan nama domain sendiri menjadi mudah dan murah, begitu anda menjadi anggota anda akan mendapatkan hak usaha yang dapat anda tekuni dan jalankan berupa bisnis Referral Program yang produknya tidak lain adalah situs web itu sendiri, artinya anda akan memiliki Bisnis Online yang produknya berupa situs web yang bisa anda tawarkan kepada orang lain.

Untuk melihat skema penghasilan yang bisa anda dapatkan dengan menjalankan bisnis ini, silahkan lihat Marketing Plan SITEKNO WEBMATIC .

]]>
http://mikrousaha.com/rss-comments/